Kamis, 12 Februari 2015

Virga

Bersuanya para embun yang menguntai indah ke angkasa
Mengawali desir lirih dari sebuah keinginan semu
Butir demi butir saling menyatu, terikat dengan erat
Tak terbesit ingin melepas
Mereka sangatlah kuat
Tak akan semilir angin membuatnya goyah
Tak akan kepakan belibis membuatnya pasrah
Dia akan tetap teguh hanya menatapnya
Menatap elok paras sang bumi
Yang penuh bening hijaunya rerumputan
Penuh salam damai dari birunya lautan
Penuh siraman cahaya yang menelisik tajam ke sela pepohonan
Penuh rayuan dan pengharapan
Namun juga penuh kerapuhan dan ketidakpastian
Dia tidak peduli
Rasa itu terlanjur meracuni setiap sisi dirinya
Memaksa untuk saling melepas
Mencakar satu sama lain
Saling menyakiti
Disaat kegoyahan itu..
Sang bumi tersenyum padanya dengan matanya yang teduh
Membuat siapapun atau bahkan apapun akan terlena, terpana
Rantai itu pun terpecah, berderai..
Tetes demi tetes air mulai jatuh
Melayang, terbang bebas berbaur dengan debu bintang
Berharap dapat bersua dengan yang didamba
Berharap dapat menyentuhnya walau sedetik saja
Nyatanya, senyum itu bukanlah untuknya
Dia tersenyum, hanya saat memandang sang surya
Ah.. memang benar..
Apalah arti tetesan air yang dingin dibandingkan hangat pelukan sang surya?
Tetes demi tetes yang jatuh itu, akhirnya mulai menguap
Terkena terik dan panas sang surya yang tengah berbahagia
Tetes yang penuh pengharapan
Tetes yang penuh keinginan
Tetes yang penuh perasaan itu
Tak akan pernah bermuara
Tak akan pernah sampai pada pelabuhannya
Tak akan pernah sampai padanya
Namun, tak perlu bersedih
Mungkin memang itulah jawabannya
Karena ia hanyalah hujan yang tak pernah sampai ke bumi
Tak pernah bisa menyentuh tanah
Kalian tahu apakah itu?
Ya. Virga..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar