Kamis, 08 Januari 2015

tipis

Selamat menjelang malam :)
Bahasan kali ini rada berat nih.. hehehe..
Judul postingan kali ini "tipis" Oke, apanya yang tipis?

Pertama, cinta dan benci itu bedanya tipis, tipis banget sampe batas antara mereka berdua hanya setipis benang(hiperbola dikit ya -_-) Nggak percaya? Pengalaman nih ya.. Dulu waktu masih SD aku itu benci banget sama yang namanya durian. Nyium baunya uda mulai nggak enak gimana gitu, pas dulu pertama kali disuruh nyoba, langsung terkapar(alay) Intinya anti banget tiap ada durian. Pas ada yang beli durian, sekeluarga makan, aku cuma diem(jongkok) ngamatin sambil mikir keras(apa enaknya itu buah) soalnya sekeluarga makannya lahap banget dan sampe rebutan gitu. 3 buah duren pun lenyap dalam sekejap -___- Tiba-tiba suatu hari pas udah SMP nih, sore gitu, aku lapeer banget, nggak ada makanan dirumah. Dan terlihatlah sepiring buah duren diatas kulkas. Entah kenapa terlihat begitu menawan(etdah) dan entah kerasukan apa tangan kananku mulai mengambil itu buah. Pertama, dicium, dirasain dikit-dikit 10 menit kemudian itu satu piring duren ludes(HAHAHA) Semenjak itulah aku cinta banget sama duren(ngehehe) Tunggu, ini kayaknya kok cinta karena kelaparan dan duren adalah satu-satunya jalan keluar(?) -___________-"(oke abaikan) Pengalaman kedua mungkin lebih jelas ya, perasaan "cinta" sama seseorang. Pasti semua pernah ngerasain kan? Tapi sayangnya, perasaan yang semestinya hanya cukup menjadi perasaan saja, berubah jadi egoisme karena keinginan untuk "memiliki" Dan rasa cinta yang berlebihan yang telah dipengaruhi oleh keegoisan itulah yang menyebabkan timbulnya rasa benci. Benci mengapa dia begini dia begitu, padahal jika dipahami secara jelas harfiah cinta. Apakah saat kita menyukai seseorang, kita harus bertanya pada orang tersebut akan dibalas atau tidak, dan jika tidak dibalas kita akan berhenti menyukainya? Tentu tidak. Dikatakan atau tidak terkatakan, dibalas atau tidak terbalaskan, itu tetap menjadi sebuah perasaan yang utuh yang tidak akan berubah intinya. Sekarang jika tidak terbalas maka berusaha "move" dengan cara yang dipaksakan, bahkan mungkin membenci seseorang yang sebelumnya kita cinta, membenci mengapa tidak memilih kita. Hei, memilih? Hati tidak pernah memilih. Jangan pernah dijadikan orang lain sebagai pilihan. Suatu saat, jika kita memang memutuskan untuk "pindah" pun, semua butuh proses, butuh waktu, dan butuh kesabaran. Memang benar, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, mencintai yang berlebihan bisa mengubah kesederhanaan rasa itu sendiri, perasaan cinta yang seharusnya membahagiakan yang merasakan, justru memberikan tekanan dan kesedihan hanya karena sebuah ego dan rasa ingin "memiliki" Itulah mengapa terdapat pepatah dari seorang novelis besar Indonesia yang berkata bahwa "Cinta sejati itu selalu sederhana. Jika memang rumit, tinggalkan. Itu bukan cinta sejatimu." :) Setuju?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar